Prince Hadir, Pendiri Blackwater Ini Daftarkan Anak Perusahaan FSG di Basra, Irak

0

MYLESAT.COM – Pendiri kontraktor militer Blackwater, Erik Dean Prince, telah mendaftarkan anak perusahaannya yang berbasis di Hong Kong di Basra, Irak.

Frontier Logistics Consultancy DMCC, yang merupakan anak perusahaan dari perusahaan baru Prince, Frontier Services Group (FSG), telah terdaftar sebagai perusahaan asing di Kementerian Perdagangan Irak, Buzzfeed melaporkan pada Jumat (26/4/2019).

Seperti dikutip sputniknews.com (27/4/2019), disebutkan bahwa kantor anak perusahaan itu berada di Basra, terletak di wilayah selatan Irak yang kaya minyak, dekat dengan perbatasan Iran dan Kuwait.

Namun FSG enggan menanggapi komentar tentang aktivitas bisnisnya di Irak.

Prince mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera pada Maret lalu, FSG dapat memberikan dukungan untuk operasi minyak di Irak atau Pakistan.

Pada 2018, Prince, yang bereaksi atas keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menarik pasukan Amerika yang ditempatkan di Suriah, mencatat bahwa akan salah untuk “meninggalkan” sekutu AS di Suriah, merujuk pada Pasukan Demokratik Suriah Kurdi (SDF).

Ia saat itu menyarankan agar kontraktor militer swasta dapat menggantikan pasukan AS guna melindungi SDF.

FSG didirikan Erik Prince, yang dikenal sebagai pendiri perusahaan militer swasta terkenal Blackwater.

Erik Prince lahir pada 6 Juni 1969 di Holland, Michigan. Ia adalah bekas perwira pasukan khusus US Navy SEAL sebelum membuka usaha berlabel Blackwater.

Blackwater didirikannya tahun 1997, dengan modal awal membeli lahan seluas 24 km2 di Great Dismal Swamps di North Carolina. Di sini ia membangun fasilitas pelatihan operasi khusus swasta.

Usaha ini kemudian ia jual tahun 2010 dan berganti nama menjadi Academi.

Reputasi Blackwater mendapat pukulan hebat setelah beberapa kontraktornya dituduh membunuh 17 warga sipil Irak, dan 14 di antaranya tanpa alasan pada 2007.

Setelah serangkaian persidangan, salah satu dari mereka mengakui kesalahannya, sementara empat lainnya dinyatakan bersalah melakukan pembunuhan. Salah satu dari operator Blackwater ini menerima hukuman seumur hidup, sementara tiga lainnya dipenjara selama 30 tahun.

Sebelumnya diberitakan bahwa Frontier Services Group telah menandatangani kesepakatan dengan pihak berwenang China untuk membangun pusat pelatihan di wilayah Xinjiang, seperti dikutip Reuters.

FSG tidak merinci tentang seperti apa pusat pelatihan, seperti apa pelatihannya atau untuk siapa mereka bekerja.

Kesepakatan itu diteken dalam sebuah upacara pada 11 Januari 2019 yang dihadiri pejabat Xinjiang dan perwakilan dari CITIC Guoan Construction.

Dari kesepakatan itu FSG akan menghabiskan sekitar 600.000 dolar AS di pusat, dan akan mampu melatih 8.000 orang per tahun.

FSG hanya menggambarkan dirinya sebagai perusahaan yang menyediakan layanan keamanan, logistik dan asuransi, sebagian besar untuk klien China baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

FSG memberikan layanan untuk bisnis kliennya yang beroperasi di lokasi panas di dunia.

Wilayah Xinjiang bertetangga dengan delapan negara, termasuk Pakistan dan Afghanistan. Wilayah ini menghadapi masalah keamanan besar karena berbagai kelompok teroris beroperasi di negara mereka termasuk Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM).

Kelompok ini terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Uni Eropa, Amerika Serikat, Rusia, China, dan sejumlah negara lain.

China juga rumah bagi minoritas Muslim Uyghur dan pemberontak anti-pemerintah yang beroperasi di wilayah tersebut. Dalam dua tahun terakhir, sedikitnya 200 orang tewas dalam serangan yang diduga dilakukan militan Uighur.

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.