Beli AMRAAM, UAV, AWACS, TNI AU Akan Miliki Postur yang Kuat di Akhir Renstra IV

0

Hanya berlangsung sederhana dalam bentuk upacara militer di Lapangan Denma Mabesau, Cilangkap, Jakarta Timur, TNI Angkatan Udara memperingati hari jadi ke-73, Selasa (9/3/2019).

Tidak ada parade dan defile pasukan disertai flypast dan manuver pesawat tempur, lazimnya di setiap peringatan HUT TNI AU. Sepertinya TNI AU menyikapi bijak pesta demokrasi yang akan berlangsung pada 17 April 2019, dengan tampil sederhana dan merakyat.

“Konsep peringatan tahun ini adalah pesta rakyat sebagai manifestasi kemanunggalan TNI AU dengan rakyat,” ujar KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna dalam sambutannya.

Baca: 73 Tahun TNI AU, Marsekal Yuyu Sutisna Ungkap Rahasia Pencapaian Setahun Terakhir: Inovasi!

Baca: Cerita KSAU Soal Bencana Alam Lombok dan Palu: Kita Kelebihan 2.100% Jam Terbang Selama 2018

Meski berlangsung sederhana, KSAU dalam pidatonya mencoba membakar semangat prajurit dengan mengutip pidato Presiden Soekarno pada peringatan Hari AURI ke-9, 9 April 1955.

Ketika itu Soekarno mengatakan, kuasailah udara untuk melaksanakan kehendak nasional karena kekuatan nasional di udara adalah faktor yang menentukan dalam perang modern.

Pernyatan presiden pertama Indonesia ini memang sangat mengena, dan banyak digunakan di lingkungan TNI AU. Sekaligus menegaskan bahwa TNI AU memiliki peran sangat strategis dalam rangka menegakkan kedaulatan negara di udara.

Dalam upaya mencapai postur idelnya itu, banyak inovasi dilakukan TNI AU khususnya satu tahun terakhir. Marsekal Yuyu pun membeberkan sejumlah keberhasilan dan apresiasi pimpinan TNI AU kepada para prajurit.

Hal pertama yang ditekankan Yuyu adalah apresiasi atas kinerja jempolan seluruh personel TNI AU selama tahun 2018 dan triwulan pertama 2019. “Tidak ada accident terjadi, saya minta pertahankan safety culture ini,” ungkap Yuyu.

Soal accident atau kecelakaan pesawat memang menjadi kepeduliaan utama pimpinan TNI AU sejak awal berdirinya. Apalagi operasional pesawat TNI AU selama 2018 saat membantu bencana alam di Lombok dan Palu sangat tinggi, menghasilkan pencapaian jam terbang yang jauh melebihi target.

Bertindak sebagai komandan upacara Kolonel Pas Qodri yang sehari-harinya menjabat Asisten Operasi Korpaskhas. Foto: beny adrian/mylesat.com

“Kita kelebihan 2.100% jam terbang selama 2018. Karena ada permintaan penerbangan begitu tinggi dan alhamdulillah kita bisa memenuhinya,” ujar Yuyu beberapa waktu lalu.

Karena itu tidak berlebihan jika secara khusus KSAU menyampaikan pujiannya kepada seluruh personel.

Selama melaksanakan misi kemanusiaan di Lombok dan Palu, pesawat TNI AU telah mengangkut total 26.801 orang dan 2.860 ton logistik. Tentunya sebuah misi yang mengagumkan.

Seperti diketahui, selama bencana alam di Lombok dan Palu dalam waktu hampir bersamaan, TNI AU memberikan dukungan operasi penuh menggunakan pesawat C-130 Hercules, Boeing B737, C295, CN235 serta helikopter NAS-332 Super Puma dan EC725 Caracal.

Apresiasi berikutnya disampaikan Yuyu atas pelaksanaan Latihan Angkasa Yudha 2018.

Dalam latihan puncak TNI AU ini telah berhasil disimulasikan operasi udara dengan model kedua belah pihak dikendalikan. Menurut Yuyu, hal ini merupakan milestone untuk melaksanakan simulasi dua pihak dikendalikan.

Selain kesuksesan pelaksaan tugas terkait operasional, TNI AU juga terus meningkatkan kesejahteraan prajurit. Yaitu dengan menciptakan program kesejahteraan prajurit berupa pemberian santunan kepada 104 keluarga prajurit yang gugur dalam tugas. TNI AU memberikan beasiswa kepada putra-putri prajurit hingga lulus kuliah.

Program pembangunan 1.000 rumah juga terus berjalan. Bahkan selama tahun 2018 telah dibangun 1.130 rumah dan akan dilanjutkan sebanyak 2.000 rumah pada tahun anggaran 2019.

Sejalan profesionalisme, TNI AU juga melakukan efisiensi anggaran utamanya di jajaran logistik. Melalui inovasi, TNI AU berhasil melakukan efisiensi anggaran hingga puluhan miliar rupiah.

Di antaranya melalui program MLU (mid-life update) pesawat tempur F-16, pemeliharaan D Check pesawat B737, modifikasi drag chute pesawat F-16, oksigen konsol untuk terjun HALO/HAHO Paskhas dan banyak lagi.

Program prioritas TNI AU yang akan dilaksanakan di tahun 2019 adalah melanjutkan road to zero accident guna mempertahanakan zero accident, mempercepat pengadaan alutsista dan memperkuat network centric warfare.

Beberapa program modernisasi dan pengembangan organisasi di lingkungan Koopsau III juga disampaikan KSAU.

Untuk lingkungan Koopsau III adalah pembentukan Skadron 33 di Makassar, Skadron 27 di Biak, Skadron 9 di Jayapura, dan pembangunan infrastuktur yang sudah mencapai 60 persen. “Kita harapkan pertengahan tahun ini bisa selesai dan segera bisa digunakan,” kata Marsekal Yuyu.

Sejumlah pangkalan udara (Lanud) juga akan menjalani peningkatan status. Lanud Adi Sumarmo (Solo), Lanud El Tari (Kupang), dan Lanud Sam Ratulangi (Manado) akan menjadi tipe A.

Sementara itu TNI AU juga akan membentuk tiga lanud baru di Batam, Saumlaki, dan Wamena dengan status tipe C. Termasuk membangun Pos TNI AU di Sorong.

Menarik juga menyimak rencana TNI AU untuk mengembangkan kemampuan pertahanan udara (rudal). Dalam kerangka program itu, akan dibentuk tiga Detasemen Hanud di Lanud Iswahyudi (Madiun), Lanud Rusmin Nuryadin (Pekanbaru), dan Lanud Rade Sadjad di Natuna.

Tidak hanya itu, bagian paling menantang adalah rencana TNI AU membangun satuan rudal untuk pengamanan (PAM) Ibukota.

Semasa tahun 1960-an, AURI mempunyai kemampuan rudal untuk PAM Ibukota dengan menempatkan rudal permukaan ke udara S-75 di Tanjung Priok, Tangerang, dan Kalijati.

“Kita sudah memesan pada triwulan I 2020 kita beli rudal darat ke udara untuk PAM Ibukota, tempatnya akan kita diskusikan,” jelas Yuyu tanpa merinci dislokasi rudal nantinya.

Kemampuan strategis lain yang dikembangkan TNI AU adalah pembelian pesawat UAV berkemampuan MALE untuk dua spot, rudal AMRAAM (Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile), pesawat AWACS/AEW&C, C-130J, pesawat tanker, pesawat CL-415 untuk pemadam kebakaran dan intelijen, 8 helikopter plus 2 untuk VIP, rudal Nasam, meriam Oerlikon, dan tentu saja pesawat tempur pengganti F-5.

Dengan pengembangan organisasi serta begitu banyaknya pesawat yang telah dan akan dibeli, tentu saja TNI AU harus menyiapkan personel untuk mengawakinya.

Khususnya memenuhi kebutuhan penerbang, Marsekal Yuyu mengatakan bahwa saat ini sudah terlihat peningkatan signifikan dari jumlah Taruna AAU yang lolos seleksi penerbang.

“Kita sudah tingkatkan pengadaan penerbang dari tahun-tahun sebelumnya yang sekitar 25-35 penerbang, maka saat ini bisa merekrut 50 calon penerbang. Bahkan yang tengah belajar saat ini 52 orang calon penerbang, ini nanti akan disebar ke skadron sesuai kebutuhan,” urai Yuyu.

“Akhir Renstra IV, TNI AU akan memiliki postur yang kuat untuk menjaga wilayah NKRI,” ujar KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna dengan yakin.

Semoga tidak lama lagi, apa yang disampaikan Presiden Soekarno 64 tahun silam itu akan menjadi kenyataan.

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.