Cerita KSAU Soal Bencana Alam Lombok dan Palu: Kita Kelebihan 2.100% Jam Terbang Selama 2018

0

Gempa bumi dan tsunami yang melanda Palu dan sekitarnya pada 2018, menyisakan pengalaman berharga bagi TNI AU. Setelah sebelumnya berjibaku membantu korban gempa bumi di Lombok, kejadian susulan di Palu betul-betul menjadi ujian bagi kesiapan alutsista TNI AU.

Gempa bumi di Palu terjadi pada 28 September 2018 pukul 18.02 WITA. Pusat gempa berada di 26 km utara Donggala dan 80 km barat laut kota Palu dengan kedalaman 10 km.

Pembelajaran itu dikisahkan sekilas oleh KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna kepada para pemimpin redaksi media nasional di ruang VIP Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta, Selasa (19/3/2019).

Diceritakan Yuyu, sore itu ia baru saja memeriksa laporan pelanggaran wilayah udara nasional di Popunas (Pusat Operasi Pertahanan Udara), Kohanudnas, Halim Perdanakusuma.

“Tak lama kemudian saya dapat laporan berita bencana alam, saya langsung perintahkan Pangkoopsau untuk mengecek. Padahal sore itu saya baru saja cek laporan pelanggaran wilayah udara di Popunas,” aku Marsekal Yuyu.

Dari hasil laporan Pangkoopsau II, ditemukan bahwa kondisi landasan di Bandara Mutiara Syekh Al Jufri tinggal tigaperempat, sisanya pecah dan retak. “Dari foto udara terlihat,” ujar Yuyu.

Namun karena TNI harus masuk ke lokasi bencana untuk sesegera mungkin membantu wasyarakat dan mengetahui kondisi aktual pasca gempa, Panglima TNI memerintahkan KSAU untuk segera mengirim pesawat.

Beruntung penerbang TNI AU sudah terlatih mendarat di landasan yang tidak memadai untuk didarati (unprepared airfield). Secara rutin kemampuan ini diasah penerbang TNI AU dengan berlatih melakukan pendaratan dalam kondisi landasan pendek.

“Mereka (penerbang TNI AU) masuk. Namun semua penuh perhitungan, dan setelah Hercules pertama mendarat disusul pesawat-pesawat berikutnya,” ungkap KSAU.

Dituturkan Yuyu, salah satu kendala yang ditemui di lapangan adalah kurangnya forklift untuk menaikkan-menurunkan barang dari pesawat.

Begitu juga soal tandu, ternyata tidak mencukupi untuk mengevakuasi korban menggunakan pesawat C-130 Hercules dan C295.

Korban luka banyak, namun tandu terbatas. Meminta dan mengajukan permintaan dalam kondisi emerjensi seperti itu, jelas tidak pada tempatnya.

“Kami lalu berinovasi dan gerak cepat. Kami punya Depo dan Komando Pemeliharaan, kami akhirnya buat sendiri 250 tandu untuk membantu bencana di Palu,” kata KSAU Yuyu Sutisna.

“Semua itu kami pelajari untuk kedepannya, sehingga jika terjadi bencana lagi, nyawa saudara kita bisa diselamatkan dengan cepat,” pungkas Yuyu lagi.

Selama bencana alam yang terjadi di Lombok dan Palu dalam waktu hampir bersamaan itu, TNI AU memberikan dukungan operasi penuh melalui pesawat Hercules dan C295.

Tidak terhitung jumlah total sorti penerbangan kedua pesawat ini, termasuk pesawat Boeing B737 serta helikopter NAS-332 Super Puma dan EC725 Caracal.

Alhasil ketika dilakukan evaluasi di akhir bencana, TNI AU menemukan bahwa total jam terbang yang dijalani sudah sangat berlebih.

“Kita dapat pelajaran bahwa kita kelebihan 2.100% jam terbang selama 2018. Karena ada permintaan penerbangan begitu tinggi dan alhamdulillah kita bisa memenuhinya,” kata Yuyu.

Pasca bencana ini, TNI khususnya TNI AU telah melakukan evaluasi mendalam. Di antaranya adalah dengan meningkatkan pelatihan tanggap darurat kepada personel TNI AU.

Bahkan, kata KSAU, soal bencana alam juga sudah diimplementasikan oleh Disdikau (Dinas Pendidikan TNI AU) di dalam kurikulum pendidikan.

Dari sisi pengadaan peralatan dan alutsista, faktor kebencanaan juga dijadikan dasar pembelian.

Dengan kesiapsiagaannya yang tinggi, TNI mampu menjadi pasukan reaksi cepat dalam memberikan bantuan dan pertolongan pertama kepada korban bencana.

Dari sisi pemerintah, jelas Yuyu, kedua kejadian ini juga menyadarkan semua pihak bahwa hanya TNI yang bisa diandalkan untuk memberikan bantuan tercepat ke lokasi bencana.

Kesadaran itu diwujudkan pemerintah melalui kementerian keuangan dengan menyiapkan dana emerjensi.

“Menkeu sudah menyampaikan bahwa TNI perlu dana emerjensi. Dana ini akan digunakan ketika ada kejadian bencana. Menkeu sudah setuju dan dipakai jika ada emerjensi saja,” beber KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna.

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.