Terjangan Tornado di Irak, Taktik Terbang Rendah yang Membawa Celaka

0

Tanggal 31 Maret 2019, pesawat tempur kebanggaan Inggris, Tornado GR4 akan tiba di ujung pengabdiannya.

AU Inggris telah mengumumkan bahwa setelah mengabdi 40 tahun, Tornado akan dipensiunkan setelah mengabdi empat dekade dan menjadi tulang punggung kekuatan udara Inggris.

Banyak pertempuran dihadiri Tornado, seperti Operation Desert Storm di Timur Tengah. Kala itu para pengamat menilai, ironis karena Tornado dilahirkan untuk mengikuti kondisi geografis di Eropa, justru dibaptis dalam pertempuran di medan gurun pasir.

Baca: Operasi Tiada Akhir, Tandai 40 Tahun Pengabdian Tornado GR4 Inggris

Baca: Lettu Pnb Marko “Fawkes” Andersen: Peranakan Tionghoa Kedua yang Jadi Penerbang Tempur TNI AU

17 Januari 1991, pukul  01.30 pagi, seperti dikutip majalah Commando, seluruh personel di pangkalan RAF (Royal Air Force) di kawasan Arab Saudi menyaksikan debut Tornado di konflik nyata.

Puluhan Tornado GR Mk.1 mengudara sambil membawa dua tabung JP233 penghancur landasan di pylon tengah. Sisanya membawa bom dan rudal antiradar ALARM. 

Serangan hari pertama ditujukan pada pangkalan udara Irak, lokasi SAM dan obyek strategis lainnya. Tornado kebagian misi menghancurkan pangkalan udara di Tallil, Al Asad, Shaibah, Ubaydah bin al Jarrah dan lokasi utama lain. 

Selepas take-off dari Dhahran, Tabuk, Bahrain dan Muharraq, para pilot dan navigator Tornado segera merasakan tekanan luar biasa.

Memasuki kawasan Irak, penerbangan dilaksanakan seperti alamnya Tornado. Terbang di ketinggian 200 kaki di atas permukaan dengan kecepatan 550 knot.

Umumnya, misi gelombang pertama Tornado berhasil mencapai sasaran dan sukses menyebar bom mautnya tanpa mendapat perlawanan berarti dari tembakan anti-aircraft Irak. Namun gelombang kedua lain ceritanya. Hanud Irak sudah lebih siap dan beberapa Tornado menjadi korban. 

Terbang di ketinggian rendah, menjadikan tak banyak waktu bila mengalami gangguan terbang. Baik kerusakan teknis maupun tertembak.

Rudal AIM-9L Sidewinder yang dibawa Tornado GR Mk. 1 bernomor seri ZD791, meledak di peluncurnya karena terkena flak dekat Basrah.

Ledakan menyebabkan kerusakan parah di pesawat. Akibatnya, Flight Lieutenants Adrian Nicholl dan John Peters dari Skadron No. XV terpaksa eject di kawasan musuh. Mereka tertangkap tentara Irak dan baru dibebaskan setelah perang berakhir. 

Tornado yang lain, ZA392 dipiloti Wing Commander Nigel Elsdon dan navigator Flight Lieutenants Max Collier dari Skadron No. 27, crash dalam misi menyerang Shaibah. Keduanya tewas. 

Di hari pertama Operation Desert Storm, tercatat 60 sorti penerbangan Tornado. Tercatat 44 sorti membawa JP233.

Namun RAF harus kehilangan dua Tornado dari total sembilan pesawat selama konflik. Sementara Italia kehilangan sebuah Tornado berseri MM7074. Kru pesawat  berhasil eject dan tertawan. 

Di konflik akbar bertajuk Operation Telic (Operation Iraqi Freedom) 2003, lagi-lagi Tornado dikirim ke kawasan Timur Tengah.

Kali ini yang dikirim sekitar 32 Tornado GR Mk. 4/4A, versi terbaru dan penyempurnaan dari GR. Mk 1/1A. Tentu saja, Tornado F.3 (ADV) sebagai pelindung terhadap pesawat lawan. 

Kali ini, AU Inggris tidak lagi menerapkan taktik lamanya dengan menyusup di ketinggian rendah.

Dengan telah beroperasinya berbagai senjata baru seperti LGB Paveway II/III, Enhanced Paveway, rudal antiradar ALARM Mk. 2 dan rudal jelajah Storm Shadow, taktik terbang rendah menyusup ke wilayah lawan menjadi kuno. 

Tornado sudah dapat melepaskan senjatanya dari jarak yang sangat jauh, di luar jangkauan hanud Irak.

Kesempatan pertama untuk menjatuhkan rudal terbaru Inggris seberat 1.350 kilogram itu dipercayakan pada Skadron No. 617 “Dambusters” pada malam 21 Maret 2003.

Sasaran gempuran adalah kota Baghdad. Meskipun bisa diluncurkan dari jarak jauh, Tornado RAF tetap tidak luput dari serangan balasan hanud Irak.

Tercatat sebuah Tornado harus men-jettison (membuang) tanki cadangan Hindenberger untuk menghindari kejaran SAM Irak. Akibatnya, saat kembali ke pangkalan, bahan bakarnya benar-benar pas kering begitu menjejak landasan.

Malang kadang tak dapat ditampik pula. Pada 22 Maret 2003, sebuah Tornado GR Mk. 4 justru ditembak jatuh rudal Patriot milik AS saat pulang dari misi.

Tornado yang hendak pulang ke pangkalannya di Kuwait itu dikira rudal Irak. Malang sekali, kedua kru turut tewas. 

Sementara Tornado F.3 RAF yang dikirim ke Irak juga dipersenjatai rudal baru AIM-132 ASRAAM.

Selain itu, perangkat defensif Tornado F.3 juga dilengkapi perangkat decoy (pengecoh radar) buatan GEC-Marconi. Tornado F.3 juga bisa membawa rudal antiradar ALARM. 

Dengan membawa rudal ini, pilot-pilot Tornado F.3 tidak lagi bosan berpatroli seperti di tahun 1991. Karena mulai saat itu mereka dapat memainkan peran lebih untuk membasmi radar dan SAM musuh. 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.