Gas Pol Bangun Koopsau III, TNI AU Berpacu dengan Waktu Hadirkan Kekuatan di Timur

0

Setelah diresmikan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pada 11 Mei 2018 di Sorong, Papua, Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau) III sudah masuk ke dalam tahap pembangunan sarana dan prasarana.

Mulai dari pembangunan gedung Mako Koopsau III, perumahan dinas, perkantoran serta nantinya pembentukan skadron udara.

Aktivitas pembangunan itulah yang diperlihatkan TNI AU secara transparan kepada 40 wartawan Jakarta yang mengikuti kegiatan Press Tour Media Dirgantara 2018 di Lanud Manuhua, Biak, Papua selama dua hari (13-14 Desember 2018).

Baca: Ini Penjelasan KSAU: 3 Skadron Udara Plus Skadron UAV Akan Dibentuk di Indonesia Timur

Dengan menempuh perjalanan udara sejauh 3.300 km selama hampir enam jam dari Jakarta – Makassar – Biak menggunakan pesawat B737-200 A7304 Skadron Udara 5, TNI AU ingin menunjukkan kepada awak media betapa luasnya Indonesia. 

“Perjalanan wartawan dari Jakarta ke Biak dikelompokkan perjalanan jarak menengah. Perbandingannya sama dengan London – Siprus dengan melewati beberapa negara Eropa,” ujar Kepala Staf Koopsau III Marsma TNI I Wayan Sulaba.

Karena sifatnya pembekalan, Marsma Sulaba memberikan penjelasan detail tentang rencana pembangunan Koopsau III serta alasan pembentukannya.

Kenapa tujuh bulan yang lalu dibentuk Koopsau III?

Sebagai ilustrasi, Sulaba mengasumsikan telah terdeteksi oleh radar Master-T milik Kosekhanudnas IV pelanggaran udara di wilayah Timika. Padahal pesawat tempur terdekat Su-27/30 Flanker ada di Lanud Hassanudin di Makassar. Lalu bagaimana?

Menurut Sulaba, waktu tempuh dari Makassar ke Timika dengan Sukhoi sekitar 2 jam 20 menit. “Dapat dibayangkan, begitu Sukhoi tiba di Timika, target sudah keluar dari wilayah NKRI. Tidak bisa menindak. Selama itu mungkin pesawat asing itu sudah mengambil data,” tutur Sulaba.

Karena itu, kata Sulaba, sekarang Koopsau III sudah berdiri namun belum memiliki alutsista.

Di Biak saat ini terdapat empat satuan TNI AU. Yaitu Koopsau III, Kosekhanudnas IV, Lanud Manuhua, dan Batalyon Komando 468 Paskhas. 

Seiring pembentukan Koopsau III, Lanud Manuhua pun naik kelas menjadi Tipe A. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Kosekhandunas IV sendiri membawahi empat satuan radar (Satrad). Terdiri dari Satrad 242 Biak, Satrad 243 Timika, Satrad 244 Merauke, dan Satrad 245 Saumlaki.

Sesuai fungsinya, keempat Satrad ini bertugas membantu pergerakan pesawat tempur saat patroli serta memantau penerbangan yang tidak bersahabat alias pelanggaran wilayah udara.

Adapun Koopsau III sebagai kotama pembinaan dan operasi, membawahi delapan pangkalan udara. Lanud-lanud itu tersebar mulai dari di Biak, Jayapura, Merauke, Timika, El Tari, Dumatubun, Pattimura, dan Morotai.

“Meliputi lima provinsi yaitu Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Maluku, dan NTT, semuanya area of responsibility Koopsau III,” beber Sulaba lagi.

Karena gedung Koopsau III masih dalam tahap pembangunan, saat ini Mako Koopsau III menempati gedung sementara. Direncanakan Mei 2019 sudah bisa diresmikan.

Sebagai Kotama Ops, Koopsau III melaksanakan empat operasi rutin sepanjang tahun. Yaitu Operasi Sayap Cendrawasih untuk pengamatan dan pengintaian udara, Operasi Lintas Cendrawasih untuk patroli udara, Operasi Angkut Cendrawasih penerbangan angkutan, dan Operasi Petir untuk pengamanan ALKI.

Lalu bagaimana Koopsau III bisa menggelar operasi padahal tidak memiliki skadron udara. Tentu saja tetap bisa dilaksanakan, dengan mendapatkan dukungan (BKO) alutsista dari Koopsau I dan II. 

Pembentukan Koopsau III tidak bisa dipisahkan dari rencana strategis modernisasi TNI yang dikemas dalam MEF (minimum essential force). Diakhir Renstra 2 yaitu 2019, diharapkan program MEF sudah mencapai 68%.

Dalam memasuki Renstra 3 nanti, TNI AU pun memberikan prioritas pembangunan kepada Koopsau III. Koopsau III akan mendapatkan alokasi dari program pembangunan kekuatan udara.

Bentuknya bisa realokasi alutsista dari Kotama lain atau pengadaan alutsista baru. Berkejaran dengan waktu, di Koopsau III akan segera dibentuk tiga skadron baru. Mulai dari Skadron Udara 27 angkut, Skadron Udara 9 helikopter, dan skadron udara tempur.

Skadron 27 rencananya akan mengoperasikan pesawat CN235 yang selama ini digunakan Skadron 2 Lanud Halim Perdanakusuma. Jadi, skadron baru namun alutsista realokasi. “Rencananya sebelum semester pertama tahun depan sudah diresmikan,” tambah Sulaba.

Pun Skadron 9 helikopter, adalah skadron baru namun menurut Sulaba, alutsistanya kemungkinan realokasi dari Skadron 6 atau 8. Skadron ini rencananya akan dibangun di Lanud Sentani, Jayapura. 

Namun mengutip penjelasan KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna, jelas disebutkan bahwa TNI sedang dalam proses pengadaan sembilan helikopter EC725 Cougar untuk Skadron 9.

Hanya saja Sulaba belum bisa menyampaikan, apakah untuk skadron tempur modelnya realokasi atau pengadaan baru.

“Tempatnya masih belum bisa disampaikan apakah di Biak, El Tari atau lanud yang lain,” pungkasnya. Namun dengan melihat kondisi wilayah udara di Papua, ia berharap diakhir Renstra 3, satu skadron tempur sudah bisa digelar di Koopsau III.

Melengkapi penjelasan Marsma I Wayan Sulaba, Kadispenau Marsma TNI Novyan Samyoga menambahkan bahwa pembentukan skadron tempur di Papua akan bisa terdukung dengan program pengembangan pesawat tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan.

“Program ini tidak batal, yang ada adalah renegosiasi terkait biaya. Sampai sekarang kita sudah menghabiskan Rp 3 triliun. Kalau program itu terus berlanjut, TNI AU akan kebagian 50 pesawat,” ulas Samyoga.

Dengan total 50 pesawat tempur generasi 4,5, Samyoga yakin kebutuhan jumlah pesawat tempur untuk ditempatkan di wilayah Timur bisa diatasi.

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.