Wisata Sejarah Gua Nenek di Biak, Pemandu Wisatanya Ternyata Anggota Paskhas

0

Inilah surganya bagi pemerhati perang dan sejarah khususnya Perang Pasifik di Indonesia.

Ya, Pulau Biak yang menjadi wilayah administrasi Kabupaten Biak Numfor, Papua ini menyimpan segudang bukti kekejaman perang. Ketika nyawa tidak berarti, lenyap dalam sekedipan mata oleh terjangan timah panas.

Tangga turun menuju ke dalam gua. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Salah satunya adalah gua dan beberapa lubang besar yang dipercaya bekas ledakan bom.

Adalah Abyab Binsari alias Gua Nenek yang sangat terkenal. Menurut pemandu Mando Rumaropen, disebut Gua Nenek karena dipercaya dulu ada seorang nenek yang mendiami gua ini. “Sekarang sudah tidak ada, begitu perang nenek menghilang,” ujar Mando.

Praka Mando Rumaropen, anggota Paskhas Yonko 468 adalah putra kepala kampung Yusuf Rumaropen yang mengelola situs wisata sejarah ini. Foto: Dok. pribadi

Mando ternyata bukan pemandu wisata sembarangan. Ia anggota Paskhas TNI AU dengan pangkat prajurit kepala (Praka).

Bapaknya Yusuf Rumaropen merupakan kepala kampung di Kampung Wisata Gua Jepang, Kecamatan Samopa, Biak. 

Suasana di dalam gua yang luas dan masih menyisakan sisa-sisa perang. Foto: beny adrian/ mylesat.com

“Bapak saya kepala kampung,” akunya senyum. Menurut Mando, bapaknya mengelola situs Gua Nenek secara mandiri selama puluhan tahun agar terhindar dari perusakan.

Komandan Lanud Manuhua, Biak, Marsma TNI Fajar Adriyanto juga memastikan bahwa tour guide kami adalah anggota Paskhas. 

Sebuah drum besar yang dipercaya digunakan untuk meledakkan dan membakar gua semasa perang. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Kepada mylesat.com, Mando mengaku bahwa Kampung Wisata Gua Jepang atau Desa Wisata Binsari yang memiliki luas 2.000 hektar itu dikelola oleh orang tuanya.

Baling-baling ini tergeletak di jalan menuju arah gua. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Putra biak ini menjadi prajurit Paskhas sejak 2010. Ia sempat ditempatkan di Batalyon Komando Pakshas di Jawa sebelum pindah ke Yonko 468 Paskhas di Biak.

Sebagai pemandu wisata, Mando fasih menjelaskan kondisi gua saat perang. “Serangan Amerika pada 7 Juni 1944 mengakibatkan muncul lubang besar di gua,” jelasnya.

Untuk sampai di mulut gua, kita harus berjalan sekitar 100 meter melewati pepohonan yang rimbun dan hutan yang lembab. Hati-hati saat berjalan, karena konblok nyaris tertutup lumut sehingga cukup licin.

Bangkai mobil Jeep Willys yang menjadi bukti sejarah. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Dijelaskan Mando, tentara AS tahu gua ini digunakan sebagai tempat persembunyian tentara Jepang. “Amerika jatuhkan drum berisi bensin dan dibakar, sekitar 3.000 tentara Jepang tewas di sini.

Setiap tahun ada ziarah dari warga Jepang, mereka ibadah di sini,” ungkap Mando.

Kerangka balatentara Jepang yang berhasil ditemukan. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Gua alam memang menjadi tempat persembunyian yang aman bagi Jepang. Oleh Jepang kemudian dibuat jalan tembus (pelolosan) menuju pantai di Kampung Paray sepanjang 6 kilometer.

Sehingga dalam keadaan terdesak, Jepang bisa melarikan diri melalui lorong ini untuk mencapai pantai.

Di Pantai Paray sekarang didirikan Monumen Perang Dunia II sebagai pengingat umat manusia akan kekejaman perang.

Koleksi situs Gua Nenek mampu membawa kita berfantasi ke masa Perang Pasifik. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Menurut Mando yang lahir di Biak tahun 1990, ledakan bom Sekutu mengakibatkan munculnya lubang baru yang menambah luas gua ini.

Diperkirakan sudah ratusan kerangka tentara Jepang ditemukan di dalam Gua Nenek sejak upaya pencarian dimulai tahun 1999.

Awak media melakukan peliputan saat mengunjungi situs Gua Nenenk. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Sebagai bukti gua ini pernah dihuni tentara, di dalamnya masih tersisa enam drum bahan bakar. Drum ini dipenuhi lubang bekas tembakan.

Satu di antaranya berukuran lebih besar, yang sepertinya dijadikan bom bakar. Dimasukkan ke dalam gua dan kemudian dibakar atau diledakkan.

Penulis dengan latar belakang amunisi sisa-sisa perang di Biak. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Masih menurut Mando, Gua Nenek dikelola orang tuanya secara pribadi.

“Saya anak pertama, bapak ingin saya melanjutkan kelola situs ini,” ungkap Mando.

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.