Lantik 776 Taruna, Panglima TNI Berharap Mereka Mendapatkan Gemblengan Paripurna

0

Hari ini, Kamis (1/11/2018), menjadi sangat spesial bagi orang tua dari 776 Taruna-Taruni Akademi TNI dan Akademi Kepolisian.

Pasalnya siang ini, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto melantik kenaikan pangkat ke-776 Taruna-Taruni Akademi TNI dan Akademi Kepolisian. Saat ini para taruna dan taruni berhak menyandang pangkat Prajurit Taruna (Pratar) untuk Akademi TNI dan Bhayangkara Dua Taruna (Bhadatar) untuk Akademi Kepolisian.

Upacara dihadiri KSAD, KSAL, KSAU, dan Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Sebelumnya selama tiga bulan, para taruna dan taruni telah menempuh pendidikan candradimuka sebagai pendidikan dasar integrasi kemitraan Akademi TNI dan Akademi Kepolisian di Akmil (Akademi Militer), Magelang.

Dengan selesainya pendidikan gabungan ini, para taruna dan taruni pun dinaikkan pangkatnya menjadi Pratar dan Bhadatar.

Upacara berlangsung di lapangan Sapta Marga Akmil, Magelang, Jawa Tengah. “Dengan kenaikan pangkat, kalian diberikan hak sesuai pangkat yang baru,” ujar Panglima TNI.

Selama upacara berlangsung sekitar tiga jam, orang tua dan keluarga para taruna dan taruni memenuhi lapangan Sapta Marga. Terlihat wajah bangga, gembira sekaligus haru di wajah para orang tua ini.

Karena selama tiga bulan pendidikan candradimuka ini, seluruh taruna dan taruni tidak berhubungan sama sekali dengan dunia luar. Termasuk komunikasi dengan keluarganya.

“Itu anak saya, yang sedang nyanyi,” ujar seorang ibu asal Pekanbaru kepada mylesat.com dengan bangganya. Ia berusaha melambai-lambaikan tangannya kepada anaknya.

Anak laki-lakinya yang diterima di Akademi TNI, terpilih membawakan beberapa buah lagu bersama seorang taruni.

Untuk tahun pendidikan 2018/2019 ini, terpilih 776 pemuda-pemuda dari seluruh tanah air untuk mengikuti pendidikan di Akademi TNI dan Akademi Kepolisian.

Upacara diisi demonstrasi bongkar pasang senjata dalam kondisi mata tertutup oleh Pratar dan Bhadatar. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Lengkapnya adalah, dari Akademi Militer 295 orang (277 Taruna, 18 Taruni), Akademi Angkatan Laut 109 orang (99 Taruna, 10 Taruni), Akademi Angkatan Udara 115 orang (105 Taruna, 10 Taruni) dan Akademi Kepolisian 257 orang (227 Taruna, 30 Taruni).

Menurut Panglima TNI, tiga bulan pendidikan dasar integrasi kemitraaan adalah waktu yang sangat berharga bagi para taruna TNI dan Polri untuk hidup dan berlatih bersama, berbagi suka dan duka, mengenal satu sama lain dan bahkan mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing tanpa sekat.

“Selama kurun waktu tersebut, diharapkan tumbuh ikatan sosial, psikologis dan jiwa korsa yang erat. Sampai saat ini pun saya masih merasakan eratnya persaudaraan, jiwa korsa dan ikatan batin dengan seluruh rekan perwira TNI dan Polri yang bersama-sama menjalani beratnya latihan serta suka duka pendidikan,” urai Marsekal Hadi.

Dalam sambutannya, Panglima TNI menekankan berkali-kali akan pentingnya sinergitas di antara TNI dan Polri sebagai dua organisasi terbesar di negara ini. Sinergitas itulah yang hendaknya, menurut Marsekal Hadi, harus terbangun sejak masa pendidikan integrasi ini.

“Pendidikan tiga bulan ini sesungguhnya peletak dasar integrasi yang sangat dibutuhkan kelak di kemudian hari,“ kata Hadi.

Marsekal Hadi memberikan contoh konkrit sinergitas TNI dan Polri dalam menangani bencana alam yang baru saja terjadi di Lombok dan Palu.

“Bencana yang merenggut nyawa, harta, dan benda rakyat itu menjadi saksi sinergitas. Sinergi tersebut sangat dibutuhkan dalam masa tanggap darurat sampai pada rehabilitasi dan rekonstruksi,” ungkapnya.

Ditambahkan Marsekal Hadi, sinergitas itu juga harus dibangun dengan seluruh kementerian, lembaga, dan komponen bangsa lainnya.

“Layaknya perahu dayung, tidak akan dapat mengarungi lautan dengan segala gelombang, arus dan tiupan angin bila pendayung di atasnya tidak bekerja sama,” jelas Hadi mencontohkan.

“Untuk itulah TNI dan Polri akan senantiasa menjadi pemersatu serta mendorong seluruh komponen bangsa dalam berkolaborasi dan bekerjasama membangun negeri tercinta,” ungkap Hadi.

Demonstrasi halang rintang dari Pratar dan Bhadatar. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Marsekal Hadi mengingatkan kepada seluruh Taruna-Taruni Akademi TNI dan Akademi Kepolisian bahwa menjadi prajurit TNI dan anggota Polri adalah pilihan hidup yang mulia.

Pilihan terhormat untuk mengabdikan diri pada bangsa dan negara, melalui profesi yang menuntut pengorbanan tinggi.

“Untuk itu, diperlukan komitmen pribadi yang kuat guna menyelesaikan pendidikan ini sampai tuntas dan selanjutnya nanti menjalankan tugas sebagai perwira dengan terhormat sampai purna tugas,” pungkasnya.

Kepada seluruh taruna dan taruni, Panglima TNI tak lupa memberikan ucapan selamat atas keberhasilannya menyelesaikan pendidikan candradimuka di Resimen Candradimuka Akmil.

“Saya dapat melihat aura kebanggaan di mata kalian, pertahankan kebanggaan itu dengan menyiapkan diri mengikuti pendidikan selanjutnya yang lebih menantang,” ungkap Hadi.

Berempati dengan yang dirasakan taruna dan taruni seperti dulu juga dirasakannya, Hadi mengatakan bahwa gunakan kesempatan bertemu keluarga untuk melepas rindu.

Tapi ada satu hal, “Jangan lupa berterima kasih atas doa yang dipanjatkan orang tua dan keluarga,” kata Hadi.

Pesan Hadi ini sepertinya sangat dalam, mengingat pendidikan setelah ini yang akan dilalui oleh para taruna sangatlah berat dan menantang. Untuk itu dibutuhkan konsentrasi, kesiapan mental dan fisik serta komitmen.

“Saya berharap para taruna mendapatkan gemblengan yang paripurna untuk membentuk karakter keperwiraan,” ulas Hadi lagi.

Para Pratar dan Bhadatar siap mengikuti pendidikan selanjutnya. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Acara dimeriahkan sejumlah atraksi dan demonstrasi ketangkasan dari para Pratar dan Bhadatar. Mulai dari drumband, halang rintang, dan bongkar pasang senjata dengan mata tertutup.

Begitu rangkaian upacara dinyatakan selesai, tibalah saat yang dinantikan para orang tua. Mereka diberi kesempatan untuk bertemu dengan putra dan putrinya.

Sambil berbaris memanjang di tengah lapangan, mereka menunggu orang tua masing-masing. Beberapa keluarga terlihat kesulitan menemukan anaknya, yang secara fisik keseluruhannya hampir terlihat sama dengan postur ramping dan kulit hitam.

Pelukan disertai tangisan pun pecah begitu seorang ibu menemukan buah hatinya.

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply