Kesepakatan Strategis dalam Kerangka Hubungan Baik, Inti dari Sidang Ausindo HLC ke-6

0

Bertempat di Markas Besar Larrakeyah Northern Command di Darwin, Jumat (27/7/2018), telah berlangsung sidang ke-6 Australia-Indonesia High Level Committee (Ausindo HLC) antara TNI dan ADF (Australia Defence Force).

Sidang yang dipimpin Panglima ADF Jenderal Angus John Campbell ini diikuti oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Kedua Panglima didampingi asisten masing. Panglima TNI didampingi asisten operasi, asisten intelijen, asisten logistik, asisten personel, dan Kapuspen TNI.

Sementara Jenderal Angus didampingi asisten logistik, asisten intelijen, asisten operasi dan latihan serta asisten pendidikan.

Sidang diawali paparan umum dari Jenderal Campbell tentang kondisi aktual di Australia. Termasuk dalam kaitan kehadiran Marinir AS (USMC) di Darwin. Setelah itu Jenderal  Angus memberikan evaluasi dari kerjasama yang sudah dilakukan kedua angkatan bersenjata selama 2017. Di antara yang disampaikan adalah latihan bersama Kopassus dengan SASR pada November 2017.

Jenderal Angus juga menyampaikan bahwa Australia terbuka untuk melakukan kerjasama dalam segala hal dengan TNI. Tanpa ada pembatasan.

Saat diberikan kesempatan memberikan evaluasi dari kerjasama yang sudah berjalan, Panglima TNI juga menyampaikan hal senada.

Suasana sidang ke-6 Ausindo HLC 2018. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Kondisi aktual di Kawasan Indo Pasifik yang disoroti Marsekal Hadi adalah soal Laut China Selatan, ancaman terorisme, dan krisis nuklir di Korea Utara.

Hadi tidak lupa menyampaikan terima kasih dengan sudah diterimanya delapan pesawat C-130 Hercules dari sembilan yang diserahkan.

“Sewaktu menjadi KSAU, saya meminta supaya warna pesawat disesuaikan dengan warna pesawat TNI AU, permintaan saya dikabulkan, terima kasih,” ujar Hadi

Agenda yang dibahas dalam Ausindo HLC 2018 meliputi bidang intelijen, operasi dan latihan, logistik, dan pendidikan.

“Pada prinsipnya saya menerima dan memahami hasil evaluasi yang disampaikan Jenderal Campbell terkait sidang HLC ke-5 tahun 2017, untuk kedepannya kita harus mematangkan kembali sesuai bentuk ancaman terkini,” tutur Marsekal Hadi.

Beberapa hal yang mengemuka selama sidang HLC adalah keinginan membentuk Special Operation Forces Working Group (SOF WG). Hadi meminta wacana ini dibicarakan secara matang.

“Bentuk ancaman sudah berubah seperti ancaman terorisme dan kerawanan maritime, penggunaan unmanned aerial system. Semoga TNI bisa memaksimalkan Koopsusgab dan pasukan khusus lainnya yang dimiliki TNI,: kata Hadi.

Marsekal Hadi menyampaikan bahwa kerjasama pasukan khusus Australia dengan Indonesia, khususnya Kopassus sudah mencapai 25 tahun.

“Saya berharap kerjasama ini semakin erat, ditambah lagi dengan peningkatan pelibataan pasukan khusus dari TNI AL dan TNI AU,” ujar Hadi. Tentu saja ide pembentuka SOF WG ini akan dimatangkan di forum kecil kelompok kerja sebelum dibawa forum lebih besar.

Selain SOF WG, Jenderal Campbell menyampaikan beberapa poin yang menjadi perhatian Australia. Yaitu keinginan Australia melibatkan kapal pendarat amfibi LHD HMAS Canberra dalam Latma Nusa Bhakti Ausindo.

Secara khusus, delegasi Australia mencoba mencuri perhatian Indonesia dengan memaparkan kemampuan kapal LHD (landing heli deck) dan LSD (landing ship deck).

Australia juga menawarkan program submarine visit yang disambut positif oleh Panglima TNI.

Intinya adal lima poin yang disampaikan Jenderal Campbell dalam sidang HLC ke-6 yang akan dijadikan panduan dalam kerjasama ke depannya, yaitu:

  1. Increasing Complexity and Joint Dimensions of Exercises.
  2. Developing SOF Cooperation.
  3. Indian Ocean Maritime Cooperation.
  4. Australian Support for Indomaplhi (Indonesia, Malaysia, Philipina).
  5. Intelligence Sharing on Foreign Fighters

Selain persoalan teknis kerjasama, kedua delegasi sepakat untuk memberikan perhatian lebih dalam hal peningkatan kemampuan bahasa bagi kedua perwira angkatan bersenjata. Karena penguasaan bahasa, menurut Marsekal Hadi, sangat penting dalam pelaksanaan kerjasama ini.

Baik Australia maupun Indonesia, sepakat untuk secara bersama-sama akan meningkatkan kemampuan bahasa dengan melibatkan Pusat Bahasa yang dimiliki kementerian Pertahanan.

Karena baik TNI maupun ADF, rutin mengirimkan perwiranya untuk mengikuti pendidikan di kedua negara. Di Indonesia, pendidikan yang diikuti dimulai dari Sesko Angkatan, Sesko TNI hingga Lemhanas.

Sementara soal logistik, pihak Australia menyampaikan bahwa pengiriman pesawat Hercules terakhir akan diselesaikan pada Agustus mendatang.

Di akhir sidang, Panglima TNI memaparkan kembali bahwa ancaman terorisme, keamanan maritim, dan kejahatan lintas negara telah jadi isu bersama yang dihadapi banyak negara.

Pada saat bersama juga telah dan sedang berlangsung Revolusi Industry 4.0 yang memberikan dampak positif sekaligus negatif dengan munculnya ancaman siber, ancaman biologi, dan ancaman kesenjangan.

“Soliditas dan sinergitas menjadi kata kunci dalam membangun kerjasama,” harap Hadi.

“Besar harapan saya pertemuan ini tidak bersifat seremonial semata tapi bisa melahirkan kesepakatan yang positif, konstruktif dan dapat kita tindaklanjuti bersama,” beber Hadi lagi.

“Saya mengusulkan sidang ke-7 pada Juli 2019 dilaksanakan di Indonesia, untuk lokasinya bisa dikoordinasikan antara di Jakarta, Yogya, Bali atau Lombok,” ungkap Panglima TNI kepada koleganya Jenderal Campbell.

Sidang Ausindo HLC ke-6 ditutup dengan ditandatanganinya hasil pertemuan oleh kedua Panglima.

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply