Apel Dansat TNI AD 2018, Panglima TNI: Dorong Transformasi TNI AD dan Pelihara Teknik Pertempuran Dasar

0

Sangat spesial kunjungan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam Apel Komandan Satuan TNI AD 2018 di Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus (Pusdiklatpassus) Situ Lembang, Bandung, Jumat (16/3/2018).

Apel Dansat TNI AD diikuti oleh para komandan batalion hingga level brigade dari seluruh Indonesia. Hadir juga para Pangdam se-Indonesia, namun bukan sebagai peserta aktif.

Sebelum memberikan pengarahan di hadapan 364 peserta Apel Dansat TNI AD, Panglima TNI meninjau mini display sejumlah kemajuan dan terobosan yang dilakukan oleh TNI AD dan mitranya seperti PT Pindad. Setelah itu diajak menyelusuri survival field tempat latihan Gunung Hutan siswa komando Kopassus.

Kepada Marsekal Hadi diperlihatkan ransel serbu buatan Sritex dengan berat sekitar 3 kg. Ransel yang sudah menerapkan model pelepasan cepat (quick release) ini mampu membawa tujuh hari bekal operasi.

Panglima menyampaikan supaya model yang dibuat tetap memperhatikan faktor ergonomis demi kenyamanan prajurit yang menggunakannya. “Jangan sampai prajurit sudah terbebani dengan ransel yang berat sebelum bertugas,” ujar Panglima TNI.

Rancangan lain yang dikembangkan TNI AD bersama mitranya adalah, prototipe sensor perkenaan bagi prajurit infanteri. Sensor yang sekilas seperti cermin berukuran sekitar 5X5 cm ini, dipasang di sejumlah titik di tubuh prajurit saat melaksanakan latihan.

Panglima TNI mendapat penjelasan singkat profil tim Parako Kopassus dengan loreng SAMAR. Foto: beny adrian

Sensor berfungsi menangkap sinar infra merah yang menandai bahwa seseorang tertembak. Teknologi sensor juga diaplikasikan di topi rimba model baru. Panglima TNI memuji inovasi yang dinilainya sejalan dengan konsepsi pengembangan network centric warfare.

Ada juga penjelasan tentang digitalisasi medan operasi dalam tampilan tiga dimensi untuk memantau pergerakan kawan dan lawan.

Sebelum memasuki medan latihan survival Kopassus di Situ Lembang, Panglima TNI mendapat penjelasan singkat tentang profil terbaru tim Parako Kopassus. Sekilas terlihat tim berjumlah 10 orang ini sangat solid, dengan kamuflase seragam perang hutan yang betul-betul mampu menyamarkan mereka di vegetasi tropis yang didominasi warna hijau.

Seragam perang hutan yang dinamakan SAMAR (Spektrum Adaptasi Mata Anti Refleksi) ini dikembangkan melalui swadaya Kopassus dengan industri dalam negeri.

Sebelum menyampaikan arahannya kepada peserta Apel Dansat, Panglima TNI tak lupa menyampaikan kesannya saat memasuki Situ Lembang. “Kesan pertama saya yang paling mendalam memasuki medan latihan saat membaca satu slogan: lebih baik menjadi petarung daripada menjadu pecundang,” ujar Hadi.

Setelah itu Hadi menceritakan kejadian singkat yang dialaminya saat memasuki medan latihan survival tadi. Sebelum memasuki medan latihan, kaki Panglima TNI menginjak jebakan yang ternyata pemicu bahan peledak. Sebuah ledakan keras membahana di tengah hutan itu.

Seorang perwira berpangkat mayor yang mendampingi Panglima TNI sontak tiarap, yang langsung diikuti oleh Marsekal Hadi. “Saya terkejut dan bukan direkayasa, mayor yang mendampingi saya kok tiarap, dan karena itu saya juga tiarap, tapi yang di belakang kok berdiri semua,” tutur Panglima TNI sambil tertawa.

Seorang perwira yang berada di dekat mylesat.com bergumam, reflek Panglima ternyata masih bagus.

Kepada peserta Apel Dansat, Panglima TNI malah menyampaikan apresiasinya. Menurut Panglima TNI, teknik dasar pertempuran harus terus dipelihara prajurit meskipun teknik berperang sudah jauh berkembang.

“Vietnam saja mempelajari teknik gerilya ini, jangan ditinggalkan meskipun kita harus mempelajari ilmu perang modern,” jelas Hadi.

Apel Dansat merupakan bagian dari pembinaan satuan di lingkungan TNI AD untuk mengonsolidasikan jajaran satuan tempur agar memperoleh kesepahaman melalui pembelajaran bersama. Berbagai permasalahan dan pengetahuan dijadikan bekal bagi perwira saat kembali ke satuannya.

Berbagai informasi terkini dan kebijakan TNI AD juga disampaikan dalam kesempatan ini, hingga nantinya diharapkan terkomunikasikan sampai ke satuan paling bawah.

Beberapa hal yang dipaparkan Marsekal Hadi, di antaranya kajian berdasarkan Global Peace Index 2017, yang menempatkan Indonesia di posisi 53 dari 163 negara. Artinya situasi di Indonesia cukup damai sehingga pembangunan nasional bisa berjalan dengan baik.

Sementara Global Terrorism Index menempatkan Indonesia di urutan 42 dari 153 negara. Karena itu, ujar Panglima, TNI AD khususnya harus peka dalam menjalankan tugas mengamankan perbatasan, karena sering dimanfaatkan untuk penyelundupan orang atau barang termasuk narkoba.

Dalam menghadapi ancaman terorisme, surat terbuka Panglima TNI kepada Panitia Rancangan Undang-Undang tentang Terorisme mendapat respon positif. Dikatakan Panglima, ada tanggapan positif bahwa TNI akan dilibatkan dalam tindakan penanggulangan terorisme.

Karena itu Panglima meminta TNI AD harus terlibat dalam menanggulangi semua hal yang berpotensi merusak NKRI. Dalam konteks ini, kekuatan TNI AD yang menjaga perbatasan adalah benteng negara dari serbuan narkoba.

Hadi memberi contoh anggota TNI yang berhasil mengungkap penyelundupan narkoba seberat 10 kg yang disimpan di roda serep di wilayah Kalimantan. Termasuk 1,2 ton narkoba yang berhasil ditangkap TNI AL di wilayah Batam.

Sebagai upaya preventif, Panglima menerbitkan surat sebagai hasil kerjasama dengan Polri, Imigrasi, dan Bea Cukai terkait pencegahaan penyelundupan barangi legal dan narkoba. “Nanti akan ada pos terpadu TNI, Polri, Imigrasi, dan Bea Cukai di perbatasan,” katanya.

Tak lupa Hadi menegaskan kembali netralitas TNI dalam menghadapi tahun politik 2018 dan 2019. Hadi dengan tegas mengatakan akan menindak setiap prajurit yang jelas-jelas terbukti melakukan tindakan yang tidak sepatutnya dilakukannya terkait Pilkada atau Pilpres.

Karena kepeduliaannya yang sangat tinggi terhadap pemberitaan, Hadi juga sudah meminta kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk lebih spesifik menyebutkan jati diri oknum jika ada pelanggaran. Apakah dari oknum TNI, Polri atau Aparatur Sipil Negara (ASN).

Hadi juga appreciated dengan Apel Dansat yang berlangsung dari 14-16 Maret 2018, karena menghadirkan anggota Polri demi menyamakan pola tindak dalam menghadapi situasi darurat. Panglima TNI menyampaikan bahwa TNI telah menyiapkan personel dan mengerahkan alutsista dalam rangka operasi perbantuan kepada Polri ini.

Panglima TNI juga menyinggung pengadaan sepeda motor kapasitas mesin besar guna mendukung perbantuan TNI dalam pengamanan Pilkada dan Pilpres.

“Kalau ada yang lihat sepeda motor pakai doreng, pasti kabur,” ujar Hadi yang tak lupa menyampaikan evaluasi terkait dua kecelakaan baru lalu di Bogowonto dan Kepulauan Seribu. “Semoga apa yang terjadi menjadi peringatan bagi kita dalam membaca prosedur dan latihan.”

Peserta Apel Dansat juga mendapat penekanan soal maraknya media sosial yang dimanfaatkan untuk tujuan negatif. Hadi meminta peserta Apel Dansat mewaspadai para spin doctor yang memiliki kecenderungan menebar kampanye negatif. Dicontohkan Hadi soal spin doctor yang menambahkan kebijakan Panglima TNI dari awalnya 11 menjadi 12.

Kampanye negatif dengan memelintir berita, juga sempat dilakukan saat terjadinya KLB Asmat beberapa waktu lalu. Hadi memuji gerak cepat Pangdam Papua yang langsung mengambil tindakan, dan kemudian mendapat acungan jempol dari Kementerian Luar Negeri.

Kemajuan teknologi informasi juga membuat definisi ancaman semakin kabur. Perang modern di era globalisasi tidak lagi menjadi komoditi militer semata seperti prinsip Clausewitz, namun sebaliknya mengombinasikan kekuatan militer dan non-militer untuk menyerang lawan.

Jenis peperangan baru ini di antaranya adalah peperangan lingkungan, peperangan keuangan, peperangan dagang, peperangan budaya, peperangan biologi, peperangan siber, peperangan hukum, dan peperangan media.

“Untuk itu kita jangan tertutup, sebaliknya harus terbuka dan terus bertransformasi dalam perubahan dunia saat ini,” harap Hadi yang mengimbau untuk tidak boleh berhenti belajar.

Kiranya tepat sekali, bahwa dengan spektrum ancaman yang semakin lebar maka spektrum operasi pun akan semakin luas.

Bahwa prajurit TNI dinilai memiliki kompetensi tinggi sebagai prajurit tangguh dan andal, terbukti dengan terus mengalirnya ajakan dari Amerika Serikat untuk latihan bersama dengan pasukan khusus TNI.

Panglima TNI memberikan arahan dalam Apel Dansat TNI AD 2018. Foto: beny adrian

Setidaknya tiga kali penawaran diterima Hadi dari Menhan AS, Panglima USPACOM, dan komandan USSOCOM yang menemuinya.

“Semuanya tujuannya ingin berlatih dengan pasukan khusus kita. Gesture terus ingin berlatih dengan kita, dan saya jawab akan kami bicarakan dalam tataran operasional.” Bahkan kesan kagum ini disampaikan Menhan AS saat menemui PM Singapura.

Oleh sebab itu Panglima TNI meminta TNI AD untuk terus mengembangkan konsep operasi yang sesuai dengan tantangan terkini. Doktrin juga harus direvisi sehingga lebih realistis dengan tantangan terkini.

“Konsep pertempuran dan taktik tempur harus terus diperbarui, kemampuan mobilitas tinggi, dan interroperability serta kekuatan komposit harus disesuaikan dengan tren ancaman kedepan. Namun kemampuan pertempuran basic tidak boleh ditinggalkan,” beber Hadi.

Taktik perang tradisional adalah modal kuat yang sudah menyatu dengan prajurit TNI, sehingga harus terus  dipertahankan. Hadi mengakui menerima informasi dari KSAD, bahwa TNI AD akan menyebar pelatih-pelatih untuk membentuk hutan pertahanan dalam menangkal serangan dalam bentuk konvensional.

Karena itu Hadi mendorong transformasi TNI AD yang mengarah kepada pembentukan batalion komposit di perbatasan, mekaniksasi infanteri, pengembangan air cavalry, dan membangun network centric warfare (NCW).

Kepala seluruh peserta Apel Dansat TNI AD 2018, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memberikan satu ungkapan: “Kita adalah pejuang yang terdidik dan terlatih untuk menjadi tentara profesional.”

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply