Panglima TNI Prioritaskan Pembentukan Pasukan Khusus Gabungan

0

Salah satu poin yang tercantum dalam Program Prioritas TNI yang disampaikan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam apel Komandan Satuan TNI 2018 di Hanggar Skadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma (25/1/2018), adalah Pembentukan Pasukan Khusus Gabungan.

Baca: Di Hadapan 425 Komandan Satuan, Panglima TNI Beberkan Program Prioritas TNI

Poin ini tentu bukan hal baru bagi TNI, khususnya bagi komunitas pasukan khusus yang dimiliki TNI yaitu Satuan 81 Kopassus, Detasemen Jala Mangkara Marinir, dan Satuan Bravo 90 Paskhas.

Bagi mereka, wacana ini sudah terdengar sejak tahun 2002. Dalam catatan mylesat.com, wacana ini mulai bergulir sejak pasukan TNI dan Polri (Gegana Brimob) melaksanaan latihan gabungan pertama di gedung DPR/MPR-RI.

Dalam perjalanan waktu, wacana ini pun naik turun seiring pergantian Panglima TNI. Jenderal Joko Santoso ketika menjabat Panglima TNI, kembali menggulirkan rencana ini dengan menyampaikan rencana pembentukan pasukan khusus dalam beberapa kali kesempatan.

Rapat-rapat terbatas pun mulai diinisiasi oleh Mabes TNI bersama komunitas pasukan khusus TNI, untuk menemukan bentuk dan formula dari komando gabungan TNI ini.

Angin pun berhembus semakin kencang pada saat Jenderal Moeldoko berada di tampuk tertinggi komando TNI. Pertemuan semakin intens dilakukan dan tim perumus pun dibentuk, yang diketuai oleh Letjen TNI Lodewijk Freidrich Paulus.

Komandan Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD yang menjadi Danjen Kopassus ke-24 ini dinilai tepat membidani komando pasukan khusus gabungan TNI.

Sampai akhirnya saat dilaksanakannya Latihan Penanggulangan Anti Teror (Latgultor) gabungan pasukan khusus TNI di kawasan Monas dan Hotel Borobudur tahun 2015, momentum itu digunakan oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko untuk meresmikan komando gabungan ini.

Moledoko menamakannya Komando Operasi Khusus Gabungan, disingkat Koopsusgab.

“Hari ini, Selasa 9 Juni 2015, Komando Operasi Khusus Gabungan TNI saya nyatakan diresmikan,” kata Moeldoko di Monas, Jakarta, Selasa (9/6/2015).

Ditegaskan Moeldoko, Koopsusgab akan mengintegrasikan operasionalisasi Sat 81, Denjaka, dan Sat Bravo menjadi kekuatan andal. Ketika itu Moeldoko menyebutkan bahwa Koopsusgab berjumlah 90 personel dari ketiga pasukan khusus TNI.

“Pembentukan Koopssusgab TNI adalah realisasi dari tanggung jawab TNI kepada negara dan pemerintah atas kesiapsiagaan TNI, dengan tingkat kecepatan tinggi terhadap tugas-tugas berderajat cepat dan segera,” tegas Moeldoko saat itu.

Moledoko memerintahkan kepada para komandan satuan pasukan khusus di jajaran TNI agar menyusun doktrin penguatan soft power dan hard power Koopsusgab.

Penguatan soft power dimulai dengan membangun hubungan emosional, menyamakan persepsi, membangun soliditas, solidaritas, dan mengeliminasi ego sektoral. Karena soft power sangat fundamental dalam membangun keunggulan kemampuan.

Sedangkan penguatan hard power dilakukan dengan melakukan analisis terhadap perkembangan kecenderungan tantangan dan perkembangan teknologi, sehingga akan diperoleh substansi penguatan kapasitas, keterampilan personel, dan latihan yang realistik serta logistik dan peralatan khusus yang dibutuhkan.

Untuk penguatan kemampuan analisis, Moledoko mengimbau untuk melakukan pembinaan dan latihan Sandhi Yudha, serta bersinergi dengan BAIS TNI dan satuan intelijen lainnya di jajaran TNI.

Main body

Pada saat itu diketahui bahwa jabatan komandan Koopsusgab TNI akan dijabat secara bergiliran per enam bulan oleh Danjen Kopassus, Dankorpaskhas, dan Dankormar.

Pada saat pengukuhan itu hingga enam bulan ke depannya, komandan Koopsusgab TNI dijabat oleh Danjen Kopassus dengan wakil Kepala Staf Kormar.

Sesuai aturan main yang diputuskan Mabes TNI, jabatan komandan diikuti oleh penetapan main body Koopsusgab beserta alat perlengkapan dari Kotama bersangkutan.

Jadi saat itu, kekuatan utama Koopsusgab berada di Sat 81 dengan Denjaka dan Satbravo sebagai unit bantuan. Otomatis juga komandan Sat 81 menjadi komandan satgas (Dansatgas).

Kedudukan Koopsusgab berada di SBF PMPP (Stand By Force Pusat Misi Pemelihara Perdamaian) TNI di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Dengan resminya Koopsusgab, artinya Panglima TNI sudah memiliki commander assets yang bisa digerakkan sewaktu-waktu sesuai dinamika situasi di lapangan. Merujuk kepada keunikan satuan khusus, tentunya tugas-tugas yang diberikan kepadanya adalah yang bersifat extraordinary operation.

Namun seberapa pun hebatnya komando pasukan khusus, tentu tidak akan ada artinya jika tidak didukung oleh intelijen yang cerdas dan peka.

Dalam hal ini tentu kita berharap, modernisasi peralatan dan peningkatan kemampuan personel satuan khusus berjalan paralel dengan lembaga intelijen yang ada di lingkungan TNI secara khusus.

Simak keberhasilan Amerika menewaskan Osama Bin Laden di Abottabad, Pakistan, 2011. Aksi kilat SEAL Team 6 itu hanyalah ujung dari sebuah pengejaran yang mengerahkan potensi intelijen secara besar-besaran dan tidak terbatas selama 10 tahun.

Namun sesuai perkembangan saat ini, tentu kepetusan yang sudah diambil tahun 2015 itu harus kembali dikaji mendalam. Model konflik dan ancaman yang terus berkembang, haruslah menjadi bahan kajian utama bagi tim perumus untuk menyesuaikan model organisasi, pembinaan serta latihan dan perlengkapan yang harus dimiliki pasukan khusus TNI.

Salah seorang anggota pasukan khusus TNI yang mylesat.com temui mengatakan, akan lebih baik jika komando ini memiliki komandan sendiri yang bukan diambilkan secara bergiliran dari ketiga pasukan khusus TNI. Ia menilai, pembinaan seperti ini akan lebih mengena dibanding model giliran.

Dengan sudah disampaikannya Program Prioritas TNI oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, artinya keberadaan Koopsusgab atau bentuk komando pasukan sejenisnya akan kembali diperjelas dalam susunan organisasi di Mabes TNI.

Namun kita harus jujur minim pengalaman menyangkut pengoperasian satuan khusus. Sehingga ketika harus menata sebuah organisasi seperti ini, TNI harus banyak belajar dari negara-negara besar yang sudah lebih dulu mengaktifkannya.

Mestinya peristiwa penyanderaan tujuh pelaut Indonesia oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan pada medio Juni 2016, dijadikan test case kesiapan Koopsusgab yang sudah dikukuhkan.

Begitu juga pembebasan sandera di Kampung Banti dan Kimbeli, Distrik Tembagapura, Provinsi Papua pada 15 November 2017, adalah kesempatan langka bagi pasukan khusus TNI untuk menguji doktrinnya.

Memang Amerika Serikat dengan USSOCOM (US Special Operation Command) adalah lahan belajar paling ideal, namun juga bisa dengan melihat Special Operations Commander Australia (SOCAUST) yang dibentuk tahun 2003.

Karena jika keterampilan bisa diperoleh, namun yang namanya pengalaman harus dijalani secara langsung. Pun soal anggaran, yang tentu tidak sedikit.

Seperti dikutip thenation.com, dari informasi sumber terbuka yang dianalisa selama 2012 dan 2013, USSOCOM kemungkinan menempatkan personelnya untuk berbagai keperluan mulai dari pelatihan, penasihat atau melaksanakan misi khusus di lebih 100 negara.

Bahkan pada 2011, juru bicara SOCOM Kolonel Tim Nye mengatakan bahwa personel SOCOM setiap tahun dikirim ke 120 negara di seluruh dunia.

Amerika sebagai negara yang paling banyak menggelar operasi militer sejak berakhirnya Perang Dunia II, di satu sisi diuntungkan dari pengalaman. Penugasan demi penugasan yang dijalani dan menyisakan pengalaman berharga, mau tidak mau membuat Pentagon harus benar-benar jeli menata angkatan bersenjatanya.

Berdasarkan kepentingan nasional Amerika pula, Presiden Ronald Reagan kemudian mengesahkan pembentukan komando baru yang diberi nama USSOCOM pada 13 April 1987.

Satu hal yang harus kita ingat juga adalah, seberapa pun hebatnya komando pasukan khusus, niscaya akan tumpul ibarat pesawat tempur F-22 Raptor tanpa radar.

Dalam konteks ini, pasukan khusus harus didukung oleh sebuah sistem surveillance, intelligence, dan reconnaissance yang canggih ditopang teknologi tinggi berbasis satelit untuk bisa membuatnya bergerak optimal.

Simak keberhasilan Amerika menewaskan Osama Bin Laden di Abottabad, Pakistan, tahun 2011. Aksi kilat SEAL Team 6 itu hanyalah ujung dari sebuah pengejaran panjang yang mengerahkan seluruh potensi intelijen AS secara besar-besaran dan tidak terbatas selama 10 tahun.

Dalam hal ini kita berharap modernisasi peralatan dan peningkatan kemampuan personel satuan khusus TNI berjalan paralel dengan lembaga intelijen yang ada di lingkungan TNI secara khusus.

Langkah Panglima TNI ini patut kita apresiasi mengingat tantangan semakin tinggi. Karena bagaimanapun, pasukan khusus adalah sebuah aset kebanggaan dan simbol ketangguhan militer sebuah negara.

Menjadi pekerjaan berat bagi tim perumus untuk bergerak cepat dalam menyiapkan segala bentuk aturan dan ketentuan yang dibutuhkan komando pasukan khusus gabungan TNI ini.

“Saat itu kami sudah standby di Sentul, setiap hari hanya berlatih dan berlatih,” ujar seorang perwira pasukan khusus TNI kepada mylesat.com, mengenang penempatannya di Koopsusgab TNI di Sentul tahun 2015.

A symbol of excellence, a badge of courage, a mark of distinction in the fight for freedom,” ucap Presiden Kennedy saat mengunjungi pasukan khusus AS, Green Berets, 11 April 1962.

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.