Flight Clearance Belum Tuntas, Bangladesh Baru Izinkan Dua Hercules Mendarat di Chittagong

0

Karena izin terbang dan mendarat (flight clearance) belum tuntas dari pemerintah dan otoritas penerbangan Bangladesh, akhirnya rencana memberangkatkan empat pesawat C-130 Hercules TNI AU ke Bangladesh pagi ini ditunda hingga siang.

Hercules yang membawa bantuan dari bangsa Indonesia untuk pengungsi Rohingnya, sedianya akan berangkat pagi ini, Kamis (14/9/2017) pukul 06.00 Wib dari Nanggroe Aceh Darussalam.

Dari informasi yang mylesat.com terima, pihak Kedubes Indonesia (KBRI) di Bangladesh sedang berusaha mendapatkan FC (flight clearance) untuk keempat pesawat memasuki ruang udara dan mendarat di bandara yang ditentukan di Bangladesh. Rencananya siang ini FC akan dikirim ke KBRI.

Sampai saat ini pihak Bangladesh baru mengeluarkan FC untuk dua pesawat. Yaitu Hercules A-1316 dan A-1326.

Izin mendarat diberikan sore ini pukul 17.00 dan 19.00 waktu setempat untuk kedua pesawat. “Mudah-mudahan siang ini bisa berangkat semuanya,” ujar Mayor Pnb Ari Susiono dari Skadron 32.

Kru A-1335 berdoa bersama sebelum meninggalkan Lanud Halim. Foto: beny adrian

Pihak KBRI berusaha mendapatkan FC untuk dua Hercules lagi. Saat ini semua pesawat dan kru standby menunggu perintah di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh.

Jika mengikuti rencana awal penerbangan, pagi ini keempat pesawat C-130 Hercules yang membawa bantuan kemanusiaan untuk pengungsi Rohingnya, akan berangkat menuju Bandara Shah Amanat di Chittagong, Bangladesh setelah menginap semalam di Lanud Sultan Iskandar Muda.

Keempat pesawat Hercules TNI AU ini berasal dari Skadron Udara 31 dan Skadron 32.

Hercules dengan nomor ekor A-1316 dan A-1335 berasal dari Skadron 32 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang. Sementara A-1319 dan A-1326 dari Skadron 31 Lanud Halim Perdanakusuma.

Keempat pesawat dilepas secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Lanud Halim Perdanakusuma pada hari Rabu (13/9/2017).

Baca Pagi Ini, 4 Hercules TNI AU Bawa 34 Ton Bantuan untuk Rohingnya

Menjawab beberapa pertanyaan mylesat.com semalam melalui WA, Letkol Pnb Suryo Anggoro sebagai perwira tertua dalam misi ini menjelaskan bahwa penerbangan (sedianya) akan dimulai pukul 06.00 Wib.

“Pesawat dari Skadron 31 akan take off lebih dulu pukul 6 pagi dengan separasi 15 menit antar pesawat. Pesawat Skadron 32 akan berangkat pukul 9 juga dengan separasi 15 menit antar pesawat,” jelas Letkol Suryo.

Urutannya adalah diawali dengan A-1319 dan A-1326. Tiga jam kemudian menyusul A-1316 dan A-1335.

Selama penerbangan, setiap pesawat akan menggunakan call sign sesuai nomor ekor (tail number) masing-masing. Penerbangan ke Bangladesh akan ditempuh selama 4,5 jam.

“Di Bangladesh paling nurunin barang, refuel, lanjut balik ke Indonesia,” tulis Suryo. Diperkirakan setiap pesawat akan berada di bandara sekitar tiga jam untuk menurunkan barang.

Letkol Pnb Suryo Anggoro yang menerbangkan Hercules A-1335. Foto: beny adrian

Total bantuan dari keempat pesawat mencapai berat 34 ton.

Selain kru pesawat dan anggota Paskhas, misi pengiriman bantuan ini juga mengikutsertakan utusan Pemerintah Indonesia, relawan, dan 11 wartawan ibukota.

Kita berharap keempat pesawat bisa berangkat siang ini juga. Mengingat ribuan pengungsi Rohingnya yang hidup dalam keterbatasan saat ini di pengungsian, sangat menanti bantuan seperti ini.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya lalu lintas penerbangan di negara terdekat dengan suatu wilayah yang tengah dilanda bencana atau konflik, mendadak meningkat. Kondisi ini tentu memaksa otoritas penerbangan setempat untuk memberikan update jadwal kepada setiap pesawat yang hendak mendarat, yang mungkin saja sewaktu-waktu berubah.

Kita masih ingat ketika Aceh dilanda Tsunami tahun 2004, ratusan penerbangan yang membawa bantuan dari sejumlah negara “memaksa” untuk bisa segera mendarat.

Sampai terjadi ketika itu sebuah pesawat Antonov An-124 dari Rusia, terpaksa mendarat di Singapura karena padatnya traffic di Aceh dan Medan.

Karena ini misi kemanusiaan, kita tunggu saja agar FC bisa dikirim secepat mungkin. Dengan positive thinking dan didasari hubungan baik kedua negara, kita yakin bahwa ini hanya masalah birokrasi saja.

Dan pasti semua dalam bahasa yang sama dalam dunia penerbangan: for safety reason.

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.