Marsda (Pur) Leo Wattimena, Legenda Penerbang Tempur TNI AU: “Apa Kabar Le”

0

Sebagai penerbang tempur, Le (panggilan akrab Leo Wattimena) hampir sempurna. Bertubuh gempal, leher pendek (secara medis sangat menguntungkan bagi penerbang tempur dalam kondisi rawan black out atau red out karena dekatnya jarak jantung yang memompakan darah ke kepala), agresif, pemberani, tapi penuh perhitungan. Menurut Letkol (Pur) Wili Kundimang, tekanan darahnya 160.

Segudang gelar lantas identik dengan Leo. Mulai dari “orang gila”, pemberani, good pilot, penerbang cerdik, orang yang sangat paham pesawat, sampai G-maniak.

Soal terakhir, didengar sendiri oleh Marsma (Pur) Agustinus Andy Andoko dari penerbang tempur India.

Pernah suatu hari di tahun 1958, di Sekolah Penerbang Lanjutan (SPL) Kalijati, Leo datang untuk mengajar.

“Leo bukan instruktur, tapi ia dan penerbang lainnya bisa dipanggil sewaktu-waktu sebagai instruktur freelance,” jelas Andoko. Aturannya, tiga kadet ditangani satu instruktur. Nah, kadet Aris adalah satu di antara siswa Leo.

Giliran Aris, demikian kenang Kudimang, tiba untuk menerbangkan pesawat latih bermesin tunggal L-4J Piper Cub. Sudah santer tersebar, Leo galak dan kebanyakan kadet takut dengan instruktur berdarah Ambon ini.

Setelah melakukan beberapa putaran di wilayah latihan (training area), Aris mendarat. Namun, “Ketinggian, mendaratnya terlalu tinggi,” aku Kudimang. Leo marah. Lantas, Aris dihukum. Ia disuruh naik ke atap hanggar! Dengan hukuman itu, Leo berharap Aris memahami ketinggian yang harus diambilnya saat mendarat.

Baca Kolonel (Pur) PGO Noordraven, Bomber Indo yang Memilih Bergabung dengan AURI

Celakanya, Aris punya penyakit tidak bisa melihat ke bawah. Aris terpaku di puncak hanggar tanpa bisa apa-apa. Turun pun ia tak berani. “Akhirnya kita rescue,” cerita Kundimang.

Mungkin karena bukan bakat, almarhum Kolonel (Pur) Aris akhirnya wash out. Lalu ia dikirim ke India untuk sekolah navigator pesawat angkut.

Dengan karakter temperamental, sepertinya Leo tidak pas menjadi instruktur. Emosinya cepat berubah. “Awalnya sih baik dan sopan, tapi dua-tiga jam kemudian suaranya makin tinggi dan teriak-teriak,” jelas Andoko.

“Goblok!” Begitu kata-kata yang biasa meluncur dari mulut Leo kepada kadet.

Dalam menjatuhkan hukuman kepada kadet yang kurang cakap di matanya, Leo punya cara sendiri. Kalau instruktur lain “hobi”mencabut kuku kaki siswa, Leo justru mengajak kadetnya terbang. Sekadar terbang sih oke, tapi jika diajak jungkir balik, itu baru masalah.

“Semua kadet Leo pasti muntah kalau sudah begini. Soalnya, mereka kan masih baru. Jadi kalau diajak begitu, ya, tidak kuat. Makanya, murid Leo tidak ada yang jadi,” kata Kundimang sambil senyum.

Leo juga terkesan tidak sabaran. Kesan ini muncul saat Leo menerbangkan pemburu P-51 Mustang dari Malang ke Amahai.

Pesawat P-51 kedua, yang bertindak selaku wingman, diterbangkan Letkol (Pur) Manetius Musidjan. Di perjalanan, dalam posisi sudah cruising, Leo terus memacu pesawatnya dengan climbing power.

Musidjan tetap mengikuti prosedur, menggunakan cruising speed. Sialnya, rudder pesawat Musidjan tiba-tiba sobek. Akibatnya, walau akhirnya berhasil menemukan Lanud Amahai, Musidjan tertinggal dan sempat kehilangan referensi.

Juga kisah-kisah “ringan tangan” Leo pada anak buah, cukup banyak jika mau diakumulasikan. Salah sedikit, pukul. Meja kotor, pukul. Tidak disiplin, pukul. Bahkan sopir truk dihajar telak di wajah karena melintas di dekat landasan sampai debunya beterbangan mengotori P-51 yang tengah dipanasinya.

Namun, menurut Marsekal (Pur) Ashadi Tjahyadi, Leo tidak akan menghajar orang skadronnya. “Espirit de corps-nya tinggi,” jelasnya.

Beda lagi komentar Musidjan. Sepengetahuannya, ada dua orang yang tidak akan dipukul Leo. Pertama, orang bersenjata. Kedua, Kopasgat (Komando Pasukan Gerak Tjepat, sekarang Korpaskhas). “Palingan disuruhnya lari,” katanya.

Musidjan ingat betul. Suatu hari di Bandung, Leo bermaksud menyeberang landasan Husein Sastranegara lewat lorong yang dibangun di bawah landasan. Tanpa sepengetahuannya, Mayor Kani (Kopasgat) juga meluncur dari arah berlawanan.

Lorongnya tanpa penerangan, gelap sekali, hanya lampu mobil satu-satunya alat penerangan. Kira-kira persis di tengah landasan, Leo mendengar deru mesin mobil dari arah berlawanan.

Entah kenapa, lorong dibangun membelok tajam di bagian tengah sehingga sorot lampu mobil dari depan tidak bisa terlihat. Leo yang kaget, langsung menghentikan kendaraannya persis di belokkan. Mobil di depan juga turut berhenti.

Merasa jalannya terhalang, Leo mencabut pistolnya dan langsung mengokang. Gesekkan cepat dua sisi baja itu teramat jelas di dalam ruangan sempit memanjang itu.

Namun Leo kaget, dari seberangnya menggema pula suara gesekkan baja lebih keras lagi. Krek… krek… Sebagai tentara Leo paham bahwa orang tak dikenalnya di balik belokkan punya senjata otomatis.

Tanpa pikir panjang, Leo memundurkan mobilnya dan keluar lorong. “Pak Leo takut juga,” kenang Musidjan.

Pernah juga sifat gampang marah membuatnya bertindak konyol. Itu terjadi suatu siang, ketika Leo mendapati sopirnya mencuci mobil di kolam, di depan Markas Komando Operasi TNI AU.

Saking geramnya, Leo menghampirinya. Sang sopir, yang tahu gelagat tak baik, langsung angkat kaki. Lari! Merasa keki, Leo mengejar. Kedua orang inipun terlibat kejar-kejaran mengitari mobil, persis anak kecil.

Barulah kemudian Leo sadar atas kekonyolannya dan menghentikan pengejarannya. Lantas ketawa ngakak.

Selentingannya, hati-hati kalau Leo mulai memutar cincin atau mengenakan sarung tangannya. Pasti akan jatuh “korban”.

1 2 3 4
Share.

About Author

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.